Movie Review: Before the Flood

Judul Film     : Before the Flood
Penulis          : Mark Monroe
Produksi       : National Geographic
Tahun            : 21 Oktober 2016
Durasi            : 1 jam 36 menit

Before_the_Flood_(2016_documentary_film)_poster.jpg

Sebenarnya saya tidak tahu menahu soal film ini sebelum teman saya Noufal dengan semangat mengajak saya nonton film ini di National Geographic Channel. Semantara menontonnya saya merasa tertarik untuk memperhatikan film ini dengan seksama.

Before the Flood menceritakan perjalanan Leonardo DiCaprio sebagai messenger of peace tentang perubahan iklim. Selama perjalanannya DiCaprio mengunjungi beberapa wilayah, bertemu dengan para ahli, ilmuan, politikus, aktifis, dan orang-orang yang mempunyai peran dalam penanggulangan perubahan iklim. Film ini juga memberikan gambaran tentang individu, media, dan kelompok yang tidak percaya dengan Global Warming.

Film dokumenter ini sebenarnya lebih fokus terhadap bagaimana peran fossil fuel dan bagaimana penanganannya terhadap Global Warming. Fossil fuel (minyak bumi, gas bumi, dan batu bara) mempunyai peran penting dalam pembangunan ekonomi negara-negara industri karena harganya yang sangat murah dan memproduksi energy yang besar. Beberapa anggota kongres Amerika Serikat bahkan media (Fox News) yang menggiring opini seseorang dengan mengatakan bahwa Global Warming adalah sebuah Hoax karena manusia tidak dapat merubah iklim. Bahkan Gubernur Florida, Rick Scott melarang menggunakan kata “Global Warming” dalam dokumen resmi pemerintah.

Screenshot 2017-01-21_11-08-43.png

DiCaprio mengunjungi beberapa wilayah yang mendapatkan dampak secara menyuluruh. Pada saat mengunjungi Kangerlussuaq, Greenland, ia mendapati turunnya permukaan dataran es sedalam 35 kaki (10 m) selama 5 tahun dan itu hanya ketinggian belum menghitung luas dataran es nya. South Florida, dimana ada fenomena terjadi yang dinamakan Sunny Day Floading, ketika permukaan laut tinggi hingga air masuk ke dalam kota membanjiri jalan-jalan perkotaan melalui saluran drainase yang berada di kota Miami. Indonesia mempunyai hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia dan juga terkena dampak terhadap kehidupan yang berada di hutan tersebut karena ingin membuat perkebunan kelapa sawit yang terkenal sebagai komoditas yang cukup murah dan bahan dasar berbagai produk makanan dan kosmetik. Di Australia dampak global warming menghancurkan ekosistem laut terutama terumbu karang dan akan mengakibatkan ketidakstabilan lebih lanjut yang akan berpengaruh secara dramatis terhadap kesediaan pangan dilaut.

China dan India juga mempunyai ketergantungan dan dampak yang sama terhadap Fossil Fuel dan Global Warming. Di China dampak dari fossil fuel sangat luas, dari lingkungan seperti udara dan air yang akhirnya mempengaruhi kesehatan dan aktifitas sehari-hari. Untuk menanggulangi permasalahan ini media, organisasi non-pemerintah, dan pemerintah bekerja sama untuk mengurangi ketergantungan terhadap fossi fuel dan beralih ke renewable source. India mempunyai tantangan tersendiri, tingginya angka kemiskinan membuat pemerintah harus fokus terhadap pembangunan ekonomi dan mengeluarkan penduduknya dari kemiskinan tetapi dengan mengurangi penggunaan batu bara, berarti memperlambat pembangunan ekonomi. Penduduk India masih harus menggunakan Bio-Mass sebagai sumber api untuk memasak dan hancurnya sektor pertanian karena hujan yang membanjiri sawah penduduk setempat membuat kondisi India lebih buruk.

Negara-negara pasifik bahkan mendapatkan dampak yang lebih hebat lagi. Kiribati, negara kepulauan di Oceania harus mengevakuasi dengan cara membeli sebuah pulau di negara kepualuan Fiji karena dampak banjir, puting beliung, dan beberapa tahun lagi akan tenggelam, dan para penduduk dapat bermigrasi bahkan harus bermigrasi karena tidak mempunyai pilihan lagi. Palau, negara terpisah menjadi pulau-pulau karena naiknya permukaan air laut.

Dampak dari naiknya suhu walaupun 1°. Naik dalam 1° mempunyai dampak badai, kekeringan. Sebelum 2° terumbu karang akan hancur, pada 3° akan ada heatwave dan membuat sebagai wilayah tidak layak hidup dan berbagai pertanian hancur.

Screenshot 2017-01-21_11-12-27.png

Ahli dari Jerman yang sekarang menjadi peneliti di Penn State University, Dr. Michael, mengemukakan bahwa naiknya suhu global memang fluktuatif, tapi setelah revolusi industri suhu kemudian naik dengan sangat signifikan dan grafiknya seperti tongkat olahraga hockey. Setelah mempublikasikan penelitiannya, Dr. Michael mendapatkan ancaman, diolok-olok, dan dikritik. Ia mengatakan bahwa beberapa perusahaan besar menggunakan Think Tanks dan Front Groups dan individu yang mempunyai kredensial yang baik dan ingin menjual kredinsial untuk mengatakan bahwa Global Warming ialah sesuatu kebohongan. KOCH Industries salah satu korporasi besar di America Serikat yang mempunyai kebutuhan tinggi terhadap Fossil Fuel dan membuat organisasi American for Prosperity sebagai Front Group untuk mempengaruhi. Tidak hanya menggunakan organisasi tidak tanggung-tanggung mereka pun membiayai pada anggota kongres seperti Ted Cruz, James Inhofe, Paul Ryan, Mich McConnel, dan masih banyaknya lainnya sehingga dapat menghambat undang-undang untuk menanggulangi Global Warming.

Screenshot 2017-01-21_11-10-21.png

Tidak hanya pemaparan masalah, Before the Flood juga memberikan solusi yang bisa dilakukan baik individu, kelompok, maupun pemerintah. Ternak sapi membutuhkan lebih dari 70% produksi pertanian terlebih lagi memproduksi methane, setiap 1 molekul methane sama dengan 23 molekul karbodiksida dan mayoritas methane yang ada di bawah atmosphere berasal dari ternak. Hal yang mudah ialah mengurangi konsumsi daging sapi dan berailih ke daging ayam dan sayur/buah. Elon Musk, pendiri tesla, spacex, dan paypal mempunyai ide untuk membangun sustainable power yaitu Gigafactory dengan menggunakan solar panel dan mensupply listrik ke beberapa daerah. Selanjutnya, carbontax, dimana memberikan pajak pada penggunaan fossil fuel. Tapi jelas kebijakan ini tidaklah popular sehingga carbontax jarang digunakan. Jika mau merubah kebijakan politik, yang harus pertama diubah ialah opini public, jika opini public telah popular untuk suatu isu, maka pejabat akan mengikuti opini public tersebut karena politikus selalu mengambil kebijakan untuk sesuatu yang popular.

Screenshot 2017-01-21_11-15-32.png

Dalam lingkup international, Di Caprio mewawancarai Menteri Luar Negeri, John Kerry. Kerry mengatakan bahwa AS dan China akan bekerja sama dan mengeluarkan statmen terhadap Global Warming pemerintah negara-negara lain akan membuat langkah yang konkrit. Para pemimpin dunia untuk menyapakati secara bersama di COP Paris. Paris Agreement mempunyai aturan untuk mengurangi suhu global sebanyak 2°, tapi tidak ada aturan mengenai cabontax, hukuman, atau faktor pemaksa. Walaupun setelah di ratifikasinya Paris Agreement, kongres AS ingin segera menariknya karena menghambat perekonomian. Presiden Obama mengatakan bahwa Pentagon telah menetapkan bahwa Global Warming bukan lagi masalah lingkungan tapi masalah keamanan national karena sebagian besar penduduk hidup di daerah pesisir, jika permukaan naik akan terjadi ketidakstablikan yang diakibatkan karena migrasi penduduk.

Screenshot 2017-01-21_11-14-07.png

Pada bagian akhir dalam film ini, wawancara dilakukan bersama pemuka agama Pope Francis dan Ilmuan NASA. DiCaprio mengunjungi Pope Francis. Pope Francis mengluarkan dokumen untuk segera mengambil aksi tentang permasalahan lingkungan yang dihadapi. Sebagai salah satu pemuka agama global Pope, mengajak untuk menerima ilmu modern dan bekerja sama untuk menanggulangi permasalahan lingkungan yang ada, tentunya ini adalah sesuatu yang baru. Ilmuan NASA Piers Sellers menjelaskan bagaimana pergerakan udara, arus laut, dan faktor alam lainnya pada masa Global Warming ini. Walaupun telah divonis hidup tidak lama lagi, Sellers tetap memandang positif terhadap kemampuan manusia, manusia lain hanya perlu dibuka matanya untuk bisa mengambil sikap.

Akhir dari film ini memberikan solusi terhadap global warming ialah mengkonsumsi dengan cara yang berbeda dengan cara apa yang dibeli, apa yang dimakan, dan bagaimana mendapatkan energy. Selanjutnya memilih pemimpin yang mau melawan perubahan iklim.

Film ini tidak terlepas dari atmosphere pemilihan Presiden AS. Dapat dilihat dengan jelas beberapa cuplikan-cuplikan yang menolak akan adanya Global Warming berasal dari Partai Republik. Bahkan sepotong klip kampanye Donald Trump yang tidak mempercayai isu ini pun dihadirkan. Sedangkan tokoh-tokoh Partai Demokrat seperti mantan presiden Bill Clinton, mantan wakil presiden Al Gore, Obama, dan John Kerry diberikan tampakan sebagai partai dan tokoh yang mempunyai perhatian akan Global Warming.

Kritik terhadap film ini pun tetap berdatangan karena gaya hidup DiCarprio. Sebagai aktor dia memang diragukan karena tidak mempunyai latar belakang akademik terhadap Global Warming. Terlebih lagi beberapa perjalanan DiCaprio memakai pesawat Jet Pribadi dan tentunya ini menjadi sorotan media-media yang tidak percaya terhadap Global Warming.

Sama dengan film yang dibuat oleh mantan wakil presiden AS, Al Gore yaitu An Inconvenient Truth film ini tentunya ingin mengedukasi penduduk dunia tentang adanya Global Warming. Sesuatu yang unik dalam film documenter ini ialah, meliput secara langsung kejadian-kejadian diseluruh dunia yang terkena dampak dari Global Warming. Tidak hanya itu, Natgeo juga berusaha untuk meliput seluruh komponen yang mempunyai pengaruh dan kepentingan terhadap isu ini seperti para ahli, politikus, ekonomis, pemuka agama, aktifis, dan lainnya. Jelas film ini akan memberikan gambaran yang komprehensif terhadap bagaimana memandang Global Warming.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s