Book Review: Menembus Blokade Belanda

Judul Buku      : Menembus Blokade Belanda
Penulis             : Brigjen (Purn) H. Bachtiar
Penerbit          : Kedai Buku Jenny
Tahun               : 2016
Jumlah Hal.    : xxx+84

Cover Menembus Blokade Belanda.png

Sebenarnya tulisan ini lebih bermaksud untuk menceritakan lebih dari resensi yang berisikan synopsis, keunggulan, dan kelemahan dari buku ini tetapi juga menyampaikan bagaimana proses hingga buku ini diterbitkan, perasaan dari diri sendiri dan juga harapan sebagai keluarga Opa sendiri. Tentunya tulisan ini akan bias dan juga mengharapkan sesuatu yang lebih seakan diri ini tidak bisa mensyukuri akan yang sudah diberikan.

Buku ini banyak menceritakan perjalanan seorang pejuang semasa revolusi fisik sebagaimana memang biografi dibuat. Berawal dari dibentuknya Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi Selatan (TRIPS) yang kemudian akan melakukan ekspedisi dengan 13 gelombang ada Desember 1946 ke Pulau Sulawesi karena Panglima Besar Jenderal Sudirman bertujuan untuk membentuk Tentara Republik Indonesi (TRI) diseluruh wilayah Republik Indonesia sebagai tanda bahwa Republik Indonesia (di luar Jawa, Madura, dan Sumatera) juga ada dan membuktikan bahwa Republik Indonesia telah merdeka secara de facto disetiap wilayah di Indonesia. Tujuan dari TRIPS ini ialah agar dibentuknya TRI di Sulawesi sambil melakukan koordinasi dengan laskar-laskar yang ada.

Revolusi Fisik 1945-1950 tidak hanya perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang mencoba merebut kembali dan tidak mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga pristiwa pemberontakan PKI di Madiun, Andi Azis di Sulsel yang ingin Sulawesi berpisah dari Republik Indonesia dan mendirikan Negara Indonesia Timur, Kahar Muzakkar dan Usman Ballo yang memberontak karena tidak diterimanya Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan bergabung ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia, dan terakhir pemberontakan oleh Republik Maluku Selatan (RMS) hingga ditangkap nya Johan Manusama dan Soukomil.

Dalam buku ini Opa Bachtiar menceritakan perjalanan dengan kapal sebanyak tiga kali. Perjalanan pertama ialah dari Sulawesi menuju Jawa bersama Alim Bachri dan Mahmud Sewang untuk menjadi pejuang Republik Indonesia. Betiga diberikan surat pengantar oleh Andi Zainal Abidin (Sekertaris Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi) untuk Andi Mattalatta agar mereka bertiga dilatih. Opa Bachtiar yang berumur 16 tahun kemudian ditolak oleh Andi Mattalatta agar melanjutkan sekolah ketimbang menjadi prajurit, mendengar itu jelas Opa Bachtiar menangis. Tapi karena Opa Bachtiar bersikukuh dengan niatnya, akhirnya Andi Mattalatta mengijinkan untuk ikut latihan militer di Situbundo dan di tempatkan di markas TRIPS.

Perjalanan kedua dan yang menjadi judul biografi ini ialah perjalanan melaksanakan ekspedisi yang memang tujuan dari dibentuknya TRIPS. Kahar Muzakkar menjadi Komandan dan Andi Mattalatta sebagai wakil komandan Resimen Hasanuddin yang sementara bermarkas di Jl. Trimargo 10, Jogjakarta. Opa Bachtiar berada dalam gelombang keenam dan juga di bawah komando Andi Mattalatta. Sebelum mendarat di Garongkong, Barru, pasukan ini harus melewati pasukan patroli Belanda. Keadaan dalam kapal tersebut meneganggkan karena kapal patroli belanda tersebut mendekat dan jika memang patroli Belanda itu merapat maka seluruh prajurit harus melakukan penyerangan, menghabisi seluruh prajurit belanda, dan kemudian merebut kapal patroli tersebut. Namun sebuah kapal lain melintas dan ditahan oleh patroli belanda. Setelah diperiksanya kapal tersebut, kami tidak didekati lagi karena patroli Belanda itu menganggap kami sama dengan kapal lain yang barusan diperiksanya.

Dan yang terakhir ialah perjalanan ketiga yaitu dari Sulawesi ke Jawa. Karena belanda menyuruh agar rakyat bermukim dipinggir jalan agar mudah diawasi oleh Belanda, para pasukan merasa kesulitan. Kesulitan karena tentara dipisahkan oleh rakyatnya yang membantu perjuangan. Akibatnya, logistik tidak ada dan makananpun sangat susah didapat. Akhirnya Andi Mattlatta memerintahkan Saleh Lahede untuk melapor ke Panglima Besar Sudirman akan kondisi ini dan ditunjuklah Opa Bachtiar bersama enam prajurit lainnya untuk menjadi pengawal. Perjalanan menuju pantai tersebut sungguh meneganggkan karena harus melewati pemukiman-pemukiman yang juga diduduki Belanda. Bahkan setelah berlayar untuk mendapatkan kapal yang layak menyebrangi lautan agar sampai ke Pulau Jawa harus mengambil perahu, kemudian melihat sandeq dan membajaknya, lalu melihat lambo dan kembali juga membajaknya. Pembajakan tersebut tidak selesai dengan aksi-aksi yang jahat, tapi setiap berpindah kapal diberikan upah dan diberikan kembali ke para pemiliknya walaupun barang yang dibawah harus dibuang atau dimakan semasa perjalanan.

Naskah buku ini dituliskan oleh Brigjen (Purn) H. Bachtiar. Beliau menulisnya dengan di atas selembaran-selambaran kertas. Naskah ini sebenarnya telah lama dan sempat berhenti untuk dilanjutkan, tetapi sejak mendapatkan dukungan lagi dari keluarga  akhirnya beliau menyelesaikannya dan kemudian diberikan kepada pihak penerbit untuk diterbitkan. Oleh karena itu banyak detail yang atau cerita yang bisa dinilai cukup kurang dibandingkan selama karier beliau di TNI AD serta perjalanan merajut keluarganya. Dan tentunya diharapkan adanya lanjutan dari buku biografi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s